Jumat, 25 Januari 2013

Sulit Jaring Kader Perempuan, Parpol Masih Anut Sistem Patriarki


Sulit Jaring Kader Perempuan, Parpol Masih Anut Sistem Patriarki

Mustholih - Okezone
Jum'at, 25 Januari 2013 07:03 wib
Ilustrasi (Okezone)
Ilustrasi (Okezone)

Menurut Anggraeni, dalam memenuhi kuota tersebut partai politik memang tidak bisa melakukannya ketika jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) digelar.

"Kalau dilakukan ketika menjelang pencalegan wajar menjadi sulit. Mestinya ini satu kerja panjang yang dikerjakan jauh-jauh hari," kata dia saat berbincang dengan Okezone, Kamis (24/1/2013) malam.

Anggraeni mengingatkan bahwa kuota 30 persen keterwakilan perempuan harus menjadi komitmen yang dijalankan bagi semua partai politik. Dia menambahkan dalam menjaring perempuan, partai harus melakukan pengkaderan secara sistamatis mulai dari rekrutmen anggota, kepengurusan, hingga mengusungnya menjadi calon legislator.

"Jangan melakukan secara parsial hanya menjelang pemilu. Kuota 30 persen harus dilakukan terus-menerus hingga menjadi lembaga," terang Anggraeni.

Kuota 30 persen keterwakilan perempuan sendiri sudah dijalankan sejak Pemilihan Umum 2004 silam. Pada implementasinya saat ini, banyak partai yang seperti angkat tangan dalam memenuhi kewajiban tersebut.

Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Agun Gunanjar pesimistis kuota tersebut bisa terpenuhi di Pemilihan 2014. Meski mengaku mendukung kiprah perempuan di pentas politik nasional, namun kenyataan di lapangan partai begitu kesulitan menjaring kader perempuan. "Harus realistis dong, karena kemajemukan daerah berbeda. Situasi di tiap daerah berbeda," kata Agun, Selasa 22 Januari lalu.

Namun, pernyataan ini dinilai tidak logis. Menurut Anggeraeni, menggugat keberadaan kuota 30 persen bagi perempuan di Pemilihan Umum 2014 menjadi langkah mundur. "Kalau masih bicara kuota itu kita mundur ke belakang. Ini aturan sudah dijalankan dua kali pemilu. Harusnya kita sudah bicara bagaimana meningkatkan kualitas kader perempuan dalam menjaring calon legislator," terang Anggraeni.

Anggaeni mengaku kecewa apabila aturan kuota 30 persen bagi perempuan digugat. Dia mengatakan, apabila ada partai yang mengaku kesulitan menjaring kader perempuan itu menjadi bukti bahwa sistem patriarki masih bercokol di sana.

"Ini menjadi sulit bagi kita dan membuat kita bertanya ada apa? Ini membuat kita mempertanyakan bahwa memang pola patriarki di partai tidak terhindarkan," tutupnya.

0 komentar:

Posting Komentar

adsensecamp

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini