Sabtu, 10 November 2012

Penyuluhan verifikasi parpolSEJAK ZAMAN DULU KUNINGAN DAERAH AGAMIS

7 09 2007 Kalau kita cermati mengenai Sejarah Kuningan, bahwa sebenarnya Kuningan sejak dulu sepertinya sudah dikodratkan untuk mendapat predikat Daerah Agamis (berbasis agama). Hal ini kita lihat bahwa sejak munculnya nama “Kuningan” berdasarkan sumber sejarah “Carita Parahiyangan” – yang menceriterakan eksistensi Kuningan pertama kalinya, bahwa sebelumnya Sanjaya menguasai Kerajaan Galuh, dia harus mengalahkan dulu “Sang Wulan – Sang Tumanggal – dan Sang Pandawa” tiga tokoh penguasa di Kuningan (= Triumvirat), yaitu tiga tokoh pemegang kendali pemerintahan di Kuningan sebagaimana konsep “Tritangtu” dalam konsep pemerintahan tradisional suku Sunda Buhun. Sang Wulan, Tumanggal, dan Pandawa ini menjalankan pemerintahan menurut adat tradisi waktu itu, yang bertindak sebagai “sang rama”, “sang resi”, dan “sang ratu”. Sang Rama bertindak selaku pemegang (ketua) adat, Sang Resi selaku pemegang (ketua) kepercayaan/agama, dan Sang Ratu pemegang pemerintahan. Makanya Kerajaan Kuningan waktu dikendalikan tokoh “Triumvirat” ini berada dalam suasana yang gemah ripah lohjinawi, tata tentrem kerta raharja, karena masing-masing dijalankan oleh orang yang ahli di bidangnya. Tata aturan hukum/masalah adat selalu dijalankan adan ditaati, masalah kepercayaan / agama begitu juga pemerintahannya. Semuanya sejalan beriringan selangkah dan seirama.

Ketika Kuningan diperintah Resiguru Demunawan pun (menantu Sang Pandawa), Kerajaan Kuningan memiliki status sebagai Kerajaan Agama (Hindu). Hal ini nampak dari ajaran-ajaran Resiguru Demunawan yang mengajarkan ilmu “Dangiang Kuning” – keparamartaan, sehingga Kuningan waktu menjadi sangat terkenal. Dalam naskah CP disebutkan kejayaan Kuningan waktu diperintah Resiguru Demunawan atau dikenal dengan nama lain Sang Seuweukarma (penguasa/pemegang Hukum) atau Sang Ranghyangtang Kuku/Sang Kuku, kebesaran Kuningan melebihi atau sebanding dengan Kebesaran Galuh dan Sunda (Pakuan). Kekuasaannya meliputi Malayu, Tuntang, Balitar, dst.
Hanya ada 3 nama tokoh raja di Jawa Barat yang berpredikat “Rajaresi”, arti seorang pemimpin pemerintahan dan sekaligus ahli agama (resi). Mereka itu adalah:
1. Resi Manikmaya dari Kerajaan Kendan (sekitar Cicalengka – Bdg)
2. Resi Demunawan dari Saunggalah Kuningan
3. Resi Niskala Wastu Kencana dari Galuh Kawali
Pada zaman-zaman berikutnya sepertinya status Kuningan sebagai Daerah Agamis terus berlanjut ketika masuknya agama Islam ke Kuningan sekitar th 1450. Hal ini nampak dari munculnya tokoh-tokoh pemimpin Kuningan yang berasal atau mempunyai latar belakang agama. Sebut saja Syekh Maulana Akbar, yang akhirnya menikahkan putranya, bernama Syekh Maulana Arifin, dengan Nyai Ratu Selawati penguasa Kuningan waktu itu (putra Prabu Langlangbuana). Hal ini menandai peralihan kekuasaan dari Hindu ke Islam yang memang berjalan dengan damai melalui ikatan perkawinan. Waktu itu di Kuningan muncul pedukuhan-pedukuhan yang bermula dari pembukaan-pembukaan pondok pesantren, seperti Pesantren Sidapurna (menuju kesempurnaan), Syekh Rama Ireng (Balong Darma). Termasuk juga diantaranya pesantren Lengkong oleh Haji Hasan Maulani.
Pesantren Lengkong yang dipimpin Haji Hasan Maulani ini bahkan disebut-sebut sebagai cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren lainnya di Kabupaten Kuningan. Tentu saja hal ini berkat kegiatan-kegiatan yang dilakukan Haji Hasan Maulani yang pada waktu itu secara intensif terus mengamalkan ilmu-ilmu agama yang dimilikinya.

0 komentar:

Posting Komentar

adsensecamp

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini