Sabtu, 10 November 2012

Kerajaan Saunggalah sebagai “tandingan” Kerajaan Galuh

11 03 2009 Salah satu sumber yang memberikan informasi mengenai masa awal berdirinya Kerajaan Saunggalah, sekalipun tidak langsung, adalah naskah Carita Parahiyangan (CP). Naskah ini mengisahkan tokoh Sanjaya bahwa sebelum diakui sebagai Raja Galuh, ia harus berhadapan (mengalahkan/menundukan) tiga serangkai, yaitu Sang Wulan, Sang Tumanggal, dan Sang Pandawa. Mereka adalah tiga tokoh utama dari daerah yang disebut dengan nama KUNINGAN (Atja, 1968: 46).

Berdasarkan CP dikatakan bahwa ketiga tokoh serangkai dari Kuningan itu sebenarnya raja-raja daerah di wilayah Kuningan (Atja, 1968: 22, 48). Mereka dijadikan andalan oleh Rahiyang Sempakwaja atau Batara Dangiang Guru di Galunggung yang merasa tidak senang kepada Sanjaya yang telah membunuh putranya, yaitu Purbasora dalam peristiwa perebutan takhta Galuh tahun 723 Masehi (Ket: kejadian ini akibat dari peristiwa aib di keluarga Kerajaan Galuh yang berbuntut pada penggulingan Prabu Sanna [ayahandanya Sanjaya, atau anak Prabu Mandiminyak dari hasil selingkuh dengan istri Sempakwaja bernama Pohaci Rababu] oleh Purbasora pada tahun 716).  Untuk menguji keunggulan Sanjaya sebelum menduduki takhta Galuh, ia dihadapkan untuk mengalahkan raja-raja daerah Kuningan, namun Sanjaya tidak mampu (kalah). Akhirnya Sanjaya memohon kepada Batara Dangiang Guru agar Demunawan saja (Ket: Demunawan adalah adik Purbasora) yang memegang pemerintahan di Galuh, tetapi itu pun ditolak Batara Dangiang Guru (Atja, 1968: 20-22, 46-48).
Permintaan itu ditolak oleh Batara Dangiang Guru dengan alasan: Pertama, karena ia merasa curiga bahwa itu hanya siasat Sanjaya untuk memancing Demunawan masuk ke dalam perangkapnya di Galuh, setelah itu membinasakannya. Kedua, karena ia tidak rela melihat Demunawan menjadi raja bawahan Sanjaya yang saat itu telah berkuasa pula di Kerajaan Sunda. Seperti diketahui bahwa Sanjaya adalah menantu Tarusbawa, Tohaan (raja) di Sunda. Kelak, Sanjaya menyatukan Kerajaan Sunda dan Galuh menjadi satu kekuatan politik dengan nama Kerajaan Sunda (Danasasmita, 1984: 96; Ekadjati et al., 1991: 6-7).
Karena Sanjaya kalah oleh tiga serangkai dari Kuningan maka ia harus menerima siapapun yang hendak ditunjuk menjadi pemegang pemerintahan di Galuh. Ternyata Batara Dangiang Guru menunjuk Premana Dikusuma, putera patih Wijaya atau cucu Purbasora. Sebagai imbangan, Sanjaya menunjuk puteranya, yaitu Tamperan Barmawijaya, menjadi wakil (patih) di Galuh (Atja, 1968: 22;  Danasasmita, 1983/1984: 65; Ekadjati et al., 1991: 7). Upaya Batara Dangiang Guru membendung kekuasaan Sanjaya tidak berhenti sampai penunjukkan buyutnya, Premana Dikusuma, ia pun ingin mengamankan kedudukan Demunawan. Pada tahun 723 Masehi akhirnya dinobatkan sebagai raja di Kuningan,  menggantikan kedudukan mertuanya, Sang Pandawa atau Prabu Wiragati (Ket:  Demunawan  menikah dengan putri Prabu Wiragati bernama Pohaci Sangkari tahun 671 Masehi).  Wilayah kekuasaan Galunggung  oleh Batara Dangiang Guru diserahkan pula kepada Demunawan. Daerah kekuasaan Demunawan atas Kuningan dan Galunggung itu selanjutnya dinamakan sebagai daerah Kerajaan Saunggalah (Atja, 1968: 49; Danasasmita, 1983/1984: 63).
Penyuluhan verifikasi parpolDengan pembentukan kerajaan baru ini, Batara Dangiang Guru membuat tandingan Galuh yang resminya dikuasai Sanjaya, tetapi pemerintahan dipegang oleh Premana Dikusuma. Nama Saunggalah yang diberikan pada nama kerajaan di Kuningan ini berasal dari nama keraton atau istana, yaitu Keraton Saunggalah yang berarti rumah panjang (saung=rumah, galah=panjang). Penyebutan nama kerajaan dari nama istana sampai sekarang masih dikenal, seperti Yogyakarta dari Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, dan Surakarta dari Keraton Surokarto Hadiningrat. Tetapi menurut sumber naskah Wangsakerta yaitu Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, ada nama tersendiri bagi keraton yang terletak di Kuningan, yaitu Sangkarmasaya yang berarti tempat Sang Karma, yaitu tempat Demunawan tinggal menetap dan memerintah daerahnya. Demunawan disebut pula atau bergelar Sang Seuweukarma (seuweu=anak/putra; karma=adil, berkaitan dengan hukum keadilan) karena dalam hidupnya ia dikenal sebagai rajaresi (resiguru), artinya raja yang ahli juga di bidang keagamaan, dan raja yang dikenal arif/adil bijaksana. Dalam CP disebutkan bahwa betapa arifnya beliau sehingga dikenal sebagai “tempat panyaluuhan jalma rea”.

0 komentar:

Posting Komentar

adsensecamp

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini