Sabtu, 10 November 2012

Penyuluhan verifikasi parpol

Heran…, Mengapa “Sang Adipati” Selawati ?

8 03 2010 Ada satu pertanyaan yang kadang kalau teringat menjadi sesuatu masalah yang menggelitik & bahkan mengganggu pikiran. Hal itu berkaitan dengan temuan riil yang langsung saya saksikan sendiri ketika melihat kaos pramuka dari satuan penegak bantara yang berasal dari satu sekolah di Kab. Kuningan, tertulis di kaos itu nama tokoh sejarah yang ada di Kuningan yaitu: Sang Adipati Selawati. Dalam benak saya berpikiran, mungkin nama Selawati ini dijadikan nama ambalan kebanggaan penegak bantara itu, di mana mereka mengambil salah satu tokoh sejarah lokal Kuningan. Namun yang menjadi sorotan lagi yaitu penambahan kata Sang Adipati di depan nama Selawati. Apakah itu sudah betul, memang demikian, atau salah kaprah ? Coba kita bahas berikut ini.
Dalam membedah tokoh-tokoh sejarah lokal Kuningan, seperti yang telah saya ungkapkan dalam tulisan terdahulu, bahwa Selawati itu adalah seorang yang pernah menjadi penguasa di Kuningan yang kurun waktunya berlangsung ketika agama Islam mulai masuk dan berkembang di Cirebon dan daerah sekitarnya (termasuk ke Kuningan). Jadi sekitar pertengahan abad ke-15 M. Selawati mempunyai 2 orang saudara, yaitu Jayaraksa (Ki Gedeng Luragung) dan Bratawiyana (Arya Kamuning). Mereka bertiga adalah cucu dari Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Sunda Pajajaran.
Bila mengkaji nama “Selawati”, nama yang berakhiran dengan suku kata “wati” itu menunjukkan kalau nama tersebut adalah seorang perempuan. Sebaliknya dari itu, nama yang berakhiran dengan suku kata “wan” biasanya menunjukkan nama seorang laki-laki. Konon nama akhiran wan dan wati ini diambil dari kosa kata asing (bahasa Arab-?). Dengan demikian besar kemungkinan bahwa Selawati atau Salawati adalah nama dari seorang perempuan.
Karena Selawati mengemban kepercayaan sebagai seorang penguasa di Kuningan, gelar apakah atau sebutan agung apa yang cocok buat seorang wanita ? Apakah dia mendapat gelar kehormatan sebagai Sang Adipati ?
Bila melihat hierarki jabatan seorang penguasa zaman lampau yang berbetuk monarkhi (kerajaan), jabatan tertinggi adalah Raja (kalau laki-laki) atau Ratu (kalau perempuan). Di bawahnya ada Mahapatih atau Patih (wakil raja), Senapati (panglima perang), Tumenggung, Adipati, dan gelar-gelar kebangsawanan lainnya di lingkungan istana (tiap daerah bisa berbeda-beda). Khusus mengenai jabatan Adipati, biasanya itu diberikan kepada seorang kepala atau penguasa suatu daerah di bawah kekuasaan raja pusat. Dan Adipati ini biasanya gelar yang dilekatkan untuk seorang laki-laki.
Untuk penguasa daerah atau lokal yang diemban atau dijabat oleh seorang perempuan, sebutan untuk gelar kehormatan kepadanya seperti yang pernah digunakan di daerah lingkungan Jawa Barat digunakanlah sebutan “Nyi Mas”, atau “Nyai Mas” dan “Nyai Ratu”.  Contohnya: Nyai Ratu Simbarkencana, Ratu Sunyalarang (Talaga/Majalengka), Nyi Mas Gandasari, Nyi Ambetkasih, Nyi Mas Pakungwati (Cirebon). Maka dengan demikian akan tepat kiranya bila menyebut nama Selawati didahului dengan sebutan gelar atau sapaan kehormatan dengan: Nyai Ratu Selawati atau Nyai Mas Selawati.

0 komentar:

Posting Komentar

adsensecamp

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini