Sabtu, 10 November 2012

Penyuluhan verifikasi parpol

3 Pusat Pemerintahan (Ibukota) Kerajaan di Kuningan

17 03 2009 Menggali kembali eksistensi dari zaman pemerintahan kuna di Kuningan, setidaknya ada 3 tempat di Kuningan yang pernah dijadikan sebagai pusat pemerintahan (ibukota) kerajaan, baik kerajaan zaman Hindu/Budha maupun zaman Islam. Tiga daerah yang dimaksud adalah:

1. Daerah sekitar Kecamatan Darma. Dalam PRBN dan sumber yang ditulis Saleh Danasasmita menyebutkan nama Darma Agung pernah tumbuh sebagai sebuah pemerintahan yang meneruskan jejak Kerajaan Saunggalah. Jejak sejarah Kerajaan Saunggalah sendiri dalam masa akhir pemerintahan belum banyak bisa terungkap dengan jelas bagaimana urutan raja-raja yang pernah memerintahnya, dan bagaimana akhir riwayatnya. Sebagaimana diketahui bahwa Saunggalah Kuningan pertama dibangun dibawah pemerintahan Resiguru Demunawan atau Sang Seuweukarma atau Rahyangtang Kuku atau Sang Kuku. Masa pemerintahan beliau sangat lama, dalam CP dituliskan bahwa beliau wafat dalam usia sangat tua. Beliau meninggalkan dua orang putri, yang menikah masing-masing dengan Rahyang Banga (Raja Sunda), dan Sang Manarah (=Ciung Wanara) – Raja Galuh. Selanjutnya diduga bahwa Kerajaan Saunggalah akhirnya berada di bawah pengaruh pemerintahan Galuh dan Sunda. Sampai kelak di kemudian hari muncul lagi berita bahwa di abad 10-11 Prabu Ragasuci pernah bernaung di Saunggalah. Maksudnya Keraton Saunggalah Kuningan dijadikan lagi pusat pemerintahan oleh Kerajaan Sunda. Adapun letak pusat pemerintahan Saunggalah diduga berada tidak jauh dari tempat ditemukannya reruntuhan candi di Bukit Sangiang Desa Sagarahiyang Kec. Darma. Dalam tradisi Hindu bahwa pendirian candi sering pula dikaitkan dengan moment pendirian suatu kerajaan. Artinya di mana ada candi besar kemungkinan di sekitar daerah tersebut pernah berdiri sebuah kerajaan. Dalam hal ini berarti letak ibukota Kerajaan Saunggalah Kuningan  tidak jauh dari Desa Sagarahiyang Kecamatan Darma. Malahan menurut Saleh Danasasmita dan Edi Ekadjati menyebutkan bahwa di Desa Ciherang (tidak jauh dari Desa Sagarahiyang) ada tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat sebagai bekas “saunggalah”. Sayangnya ekskavasi bekas reruntuhan keraton Saunggalah ini sampai sekarang belum bisa dibuktikan keberadaannya. Atau memang tidak bisa dibuktikan karena istana atau keraton Saunggalah dibangunnya dari bahan yang mudah lapuk, yaitu kayu dan bambu.
2. Luragung. Di daerah Luragung pernah tumbuh dan berkembang pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung atau Jayaraksa pada masa kedatangan Islam ke Kuningan. Bahkan diduga ketika masih zaman Hindu pun di Luragung pernah berdiri pemerintahan bercorak Hindu dipimpin Prabu Luragung. Kata “Luragung” sendiri konon mempunyai beberapa makna, yakni berasal dari Lor Agung, atau Lurah Agung. Menurut sumber Cirebon (Carita Purwaka Caruban Nagari) bahwa ketika proses Islamisasi daerah Kuningan, Sunan Gunung Jati pernah singgah di Luragung. Kemudian istri beliau, bernama Puteri Ong Tien atau Nyai Rara Sumanding, dalam kondisi hamil menyusul ke Luragung. Tiba di Luragung ternyata bayi yang dikandungnya itu lahir, tetapi meninggal dunia. Untuk mengobati kesedihan istrinya tersebut Sunan Gunung Jati kemudian mengangkat anak dari putera Ki Gedeng Luragung, bernama Suranggajaya, untuk dijadikan putera angkat. Kelak, putera angkat Sunan Gunung Jati inilah diangkat menjadi Sang Adipati Kuningan.
3. Desa Winduherang dan Purwawinangun. Di desa ini terdapat beberapa peninggalan sejarah berupa makam (kuburan) tokoh-tokoh leluhur Kuningan, seperti makam Adipati Kuningan, Pangeran Arya Kamuning, Dipati Ewangga, Syekh Ramajaksa, dll. Biasanya tokoh-tokoh terhormat ini dimakamkan tidak jauh dari tempat tinggal mereka ketika hidupnya. Oleh sebab itu diduga bahwa pusat pemerintahan (ibukota) Kerajaan Kuningan pada masa tumbuh dan berkembangnya Islam berada di sekitar (tidak jauh) dari lokasi makam-makam tokoh leluhur Kuningan tersebut, yaitu Winduherang, Sidapurna, atau Purwawinangun yang berada di satu naungan wilayah kota Kuningan sekarang. Bahkan kalau kita lihat letak kantor Bupati Kuningan sekarang (Jalan Siliwangi No.88 Kuningan) berdekatan dengan Astana Gede Kelurahan Kuningan, sebenarnya di situlah memang “puseur dayeuh” Kuningan di zaman tumbuh dan berkembangnya Islam. Kantor Bupati Kuningan ketika zaman Hindia Belanda pernah didirikan di selatan alun-alun Kuningan (selatan Masjid Syiarul Islam) yang sekarang jadi taman kota Kuningan (sebelumnya pernah jadi terminal bis/angkot, dan Kuningan Plaza). Karena kejadian meletusnya Gunung Ciremai, kantor Bupati selanjutnya pindah ke lokasi sekarang. Berpindahnya bangunan pusat pemerintahan lazim dilakukan bilamana bekas bangunan lama tertimpa musibah. Untuk menghindari nasib naas atau kejadian yang tidak diinginkan lagi ternyata kantor Bupati sepertinya tertarik gaya magnetik, yaitu back to basic ke tempat yang tidak jauh ketika Sang Adipati Kuningan memerintah, yaitu Winduherang, Sidapurna, dan Purwawinangun suatu lokasi bersejarah buat warga Kabupaten Kuningan.

0 komentar:

Posting Komentar

adsensecamp

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini