Rabu, 31 Oktober 2012


Polling MNC Research

Rapor Merah Pemerintah dalam Pemberantasan Narkoba

Dede Suryana - Okezone
Rabu, 31 Oktober 2012 10:27 wib
Ilustrasi narkoba (Foto: Dede K/Okezone)
Ilustrasi narkoba (Foto: Dede K/Okezone)
JAKARTA - Masyarakat Indonesia, khususnya warga Ibu Kota, kecewa dengan Pemerintah dalam hal pemberantasan narkoba. Masyarakat menilai, upaya Pemerintah bukannya membaik, malah sebaliknya.

Berdasarkan polling yang dilakukan oleh MNC Media Research kepada 400 warga Jakarta, 64,14 persen responden memberi nilai merah kepada Pemerintah. Jumlah responden yang memberi nilai merah naik hampir 16 persen dibandingkan data di bulan Agustus lalu.

Saat itu, bertepatan dengan mengemukanya pemberian grasi kepada Corby dan seorang napi narkoba berkewarganegaraan Jerman, Peter Achim Franz Grobmann. Sejumlah 48,21 persen kecewa dan menganggap Pemerintah tidak serius memberantas narkoba.

Kekecewaan publik memuncak saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali memberikan grasi pada terpidana mati kasus narkoba Deni Setia Maharwan alias Rafi dan Merika Pranola alias Ola.

Polling kembali digulirkan dan hasilnya adalah nilai raport makin merah. 30 persen responden memberi nilai 5, dan 23 persen memberi nilai 3 dan 4. Bahkan, dari skala nilai 1 hingga sepuluh yang disediakan untuk dipilih responden, sekira 2 persen responden berkeras memberi nilai 0.

Pendapat masyarakat ini tentu bukan tanpa alasan. Indonesia saat ini tak sekedar konsumen dan tempat pemasaran kejahatan. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia sudah menjadi surga bagi pebisnis narkotika dan obatan-obatan terlarang.

Salah satunya, pada 2005 polisi mengungkap pabrik ekstasi di Serang, Banten yang disebut sebagai pabrik terbesar ketiga di dunia setelah pabrik di Fiji dan China. Tak lama berselang, jaringan pil ekstasi internasional terbesar di Indonesia yang sudah beroperasi selama 10 tahun terungkap. Terbaru, telah ditemukan 1.412.475 pil ekstasi dengan kemampuan merusak 1,5 juta warga Indonesia.

Pada 2011, jumlah kasus narkoba melonjak menjadi 26.560 kasus. Padahal pada 1997, hanya ditemukan 602 kasus saja. Meski responden tak pernah memelototi angka-angka tersebut, namun situasi yang memburuk dapat mereka rasakan, dan karenanya, hampir 100 persen responden menyatakan bahwa permasalahan narkoba masuk dalam kategori mengkhawatirkan.

Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkirakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia kini mencapai 3,8 juta orang atau setara dengan 2,2 persen penduduk Indonesia. Penggunanya kebanyakan dari kalangan usia produktif, yaitu kaum profesional muda. Jumlah tersebut mendekati jumlah penduduk dengan status mahasiswa di seluruh Indonesia.

Fakta-fakta tersebut membawa Indonesia menduduki peringkat 3 dunia untuk pasar narkoba. Fakta dan kekhawatiran yang tinggi menjadi pendorong bagi responden untuk menyatakan tidak setuju pada tindakan Presiden memberi grasi pada terpidana kasus narkoba.

Untuk diketahui, responden yang terjaring dalam polling ini adalah masyarakat kelas menengah. Mayoritas berusia produktif (58,75 persen berusia 17-45 tahun), tingkat pengeluaran per bulan lebih dari 2 juta per bulan (58,79,76 persen), dan minimal tamat SMA (86,15 persen).

Polling dilakukan MNC Media Research pada 20 Oktober 2012 dan menjangkau 400 responden berusia 17 tahun ke atas yang berdomisili di 5 wilayah Provinsi DKI Jakarta yakni Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Jumlah responden di setiap wilayah ditentukan secara proporsional.

Tingkat kepercayaan 95 persen, dengan ambang kesalahan 4,9 persen. Hasil polling tidak dimaksudkan sebagai representasi pendapat seluruh warga Jakarta. (ded)

0 komentar:

Posting Komentar

adsensecamp

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini